Aku dengan caraku, karena aku berbeda. :)

Minggu, 22 November 2015

KARENA CINTA HARUS ADA UANG BERSAMANYA

KARENA CINTA HARUS ADA UANG BERSAMANYA

 “Akan kupilih cinta andai saja uang ada bersamanya, akan kupilih uang andai saja cinta tak bersamanya, dan tak akan ku pilih keduanya andai saja pilihan tak pernah ada.”
***
Aku menatap dia yang sedang memandangi gemercik hujan dari balik jendela kelas. Aku sudah mengenalnya sejak duduk dibangku kelas 1 sekolah menengah atas ( SMA ), kepintaran dan wajah rupawannya yang tak dapat membuatku mengabaikan keberadaannya. Dia adalah sosok yang bijaksana, sopan, dan pendiam. Namun di atas semua itu yang membuatku hingga kini hanya melihatnya karena aku selalu nyaman bersama dengannya.
“Apakah aku begitu tampan hingga kau menatapku seperti itu?” tanyanya mengejutkanku, ia belum mengalihkan pandangannya.
“Tentu saja. Jika saja kau tak tampan, aku tidak akan pernah mau menjadi kekasihmu,” aku melihatnya mengerutkan kening, “kau selalu saja menganggap ucapanku serius. Tentu saja tidak,” jawabku tegas, “karena kau adalah kau.” Ku goreskan senyum dengan bangga.
“Itu jawaban konyol. Memangnya ‘kau’ akan pernah berubah menjadi ‘dia’? tidak mungkinkan? berhentilah menjawab seperti itu.” Kini ia kembali memandang hujan dengan wajah marah bercampur sendu, aku tidak mengerti apa yang membuatnya begitu sedih, jadi ku ucapkan maaf.
“Maaf. Aku tidak akan mengulanginya lagi.” Ucapku menunduk. Sebuah tangan menyentuh kepalaku, aku melihat ke arahnya.
“Jangan menunduk, maaf sudah memarahimu. Hanya saja saat kau menjawab seperti itu, aku merasa kau akan melupakanku saat orang yang lain lebih dariku datang. Itu membuatku takut.” Aku terkejut dengan ungkapan perasaannya.
“Bagiku itu tidak mungkin, hanya kau. Tidak akan ada yang lain lebih darimu, tidak akan pernah,” kataku cepat sambil menggelengkan kepala, “aku janji.” Aku meyakinkannya dan mengaitkan jaring kelingking-ku dengannya.
Itulah janji yang terucap setahun yang lalu saat kami duduk dibangku kelas 3 sekolah menengah atas, saat hujan yang dengan indahnya memperdengarkan senandung gemerciknya dan menjadi saksi janjiku kepadanya. Itu setahun yang lalu namun saat ini aku adalah mahasiswa semester 2 fakultas sastra indonesia dan dia tidak melanjutkan kuliahnya kerena alasan ekonomi.
“Aku tidak mengerti mengapa kau begitu suka memandangi hujan yang menjengkelkan. Sangat membuang-buang waktu.” Sebuah suara mengejek mengejutkanku.
 “Ahh sudahlah, Rizky. Jangan menggangguku, kau merusak suasana hatiku.” Kataku mengabaikannya dan kembali memandang hujan.
“Ah. Jangan bilang kau sedang mengingat kenangan kau dengan yang kau sebut kekasih sejatimu itu?” dia masih saja menggodaku.
“Bukan urusanmu.” Kataku ketus.
“Ah tentu saja kau sedang mengingat kekasih penjaga toko itu.” Dia mengabaikan ucapanku dan malah mencela Ardi.
“Lalu kenapa kalau dia penjaga toko? apa itu masalah hah?!” suaraku mulai meninggi, aku tidak suka ketika ada yang mencela Ardi terlebih lagi orang seperti Rizky.
“Tentu saja itu masalah, Airis. Kau pikir bisa hidup hanya dengan cinta?” katanya sambil menggoreskan senyum sombongnya.
“Oh jadi segalanya ini tentang uang. Lalu apakah uang bisa membeli cinta? Hah?!” aku berdiri berkacak pinggang dengan suara meninggi, menatapnya marah.
“Tentu saja. Uang adalah kebahagiaan, tidak ada kebahagiaan saat uang tak ada bersamanya.” Jawabnya masih dengan kesombongannya.
“Tidak ada Rizky, kebahagiaan bisa kau dapat dengan orang kau cintai meskipun uang tak bersamanya.” Timpalku masih tak ingin kalah darinya.
“Baiklah, terserah darimu Airis. Suatu saat nanti kau akan mengakui kebenaran ucapanku.” Katanya dan belalu pergi.
“Tidak akan pernah Rizky!!!” teriakku.
Aku mengerti mengapa ia berkata seperti itu, karena uang bukanlah masalah baginya. Ia hidup dengan gelimang harta, jadi itulah mungkin membuatnya berpikir semuanya bisa dibeli dengan uang termasuk CINTA.
***
Aku pulang ke rumah masih dengan perasaan jengkel. Benar-benar Rizky selalu berhasil mempengaruhi suasana hatiku. Aku tidak tahu mengapa ia selalu saja menggangguku dan membuatku jengkel bukan kepalang. Dasar laki-laki bodoh. Ah. Tidak, dia adalah laki-laki yang pintar. Aaahhh. Rizky Wikrawardhana.
Aku memasuki rumah dengan kening berkerut, ada mobil hitam terparkir di depan rumah. Siapa? tidak biasanya ada tamu.
 “Ada tamu yah bunda?” tanyaku pada bunda yang sedang asyik nonton.
“Oh itu. Temannya ayahmu,” bunda tidak melihat ke arahku, “teman ayah waktu masih tanah kelahirannya dulu.” Jawab bunda yang kini sudah melihatku.
Aku mengangguk mengerti, kalau teman ayah di tanah kelahirannya tidak ada yang ku kenali. Ayah lahir di Bendo, Jawa Timur sedangkan saat ini kami tinggal di kota Makassar, Sulawesi Selatan dan kami pindah sebelum aku lahir, jadi aku tidak mengetahui teman-teman ayah di sana.
“Kamu ucap salam sana, dia sudah seperti saudara ayahmu.” Perintah ibu.
Akupun mengampiri mereka yang duduk di halaman belakang rumah dan mereka tidak berdua ada laki-laki lain. Aku tidak melihat wajahnya karena dia duduk membelakangiku. Ayah tersenyum saat melihatku dan ketiga orang itu sekarang melihatku. Mataku langsung tertuju pada laki-laki yang sedang menatapku, laki-laki yang tadi duduk membelakangiku dan tiba-tiba aku berpikir ingin memilikinya.
“Ayah.” Ucapku dan mencium punggung tangannya, begitupun dengan teman ayah.
“Ini Airis, putriku Herman.” Ucap ayah memperkenalkanku
“Dia sudah sangat besar. Sekarang kelas berapa nak?”
“Mahasiswa semester 2 paman.” Jawabku.
“Aku mengira masih SMA ternyata sudah mahasiswa.” Ucap paman Herman. “Hanif Baru lulus kuliah loh.” Kata paman Herman ke ayah.
“Jadi sekarang Hanif kerja apa?” tanya ayah pada Hanif.
“Dosen arsitek paman.” Jawab Hanif sopan.
“Katanya baru lulus kuliah?” ayah terlihat bingung , akupun begitu.
“Kemarin ada tes dosen paman, aku tepilih.” Jelas Hanif.
“Wah beruntungnya kamu nak.” Ucap ayah senang.
“Beruntung sih Rif, tapi dipikirannya tuh belajar melulu. Udah lupa dianya nyari jodoh,” ayah Hanif mengeluh, “buat apa belajar melulu tapi lupa nikah. Airis bagaimana? Udah mau nikah?” Dek. Pertanyaan macam apa itu? Aku terkejut dengan pertanyaan paman Herman. Jawaban apa yang harus ku berikan?
“Memangnya kenapa Man? kamu mau jodohin Hanif bareng Airis?” ini lagi ayah, pertanyaan apa lagi tuh? Ku lirik Hanif yang sama terkejutnya denganku.
“Rencananya begitu Arif, kalau Airisnya belum punya calon.” Jawab paman Herman dengan entengnya. Aku heran dengan mereka, bagaimana bisa mereka membicarakan perjodohanku dengan hanif sedangkan kami berdua ada disini bersamanya.
“Tentu saja Airis belum punya calon,” ayah juga menjawab tanpa beban. Ya ampuuunnn mereka. Ingin rasanya aku mengubur diriku saat ini juga. Ayah juga, iakan tahu tentang Ardi. Mengapa ia berkata seolah tak tahu tentang Ardi? “bagaimana dengan Hanif?”
“Tentu saja tidak ada. Bagaimana pendapatmu Hanif?” Paman Herman bertanya pada Hanif, aku yakin Hanif tidak akan setuju.
“Aku hanya anak ayah, semuanya terserah darimu,” pernyataan macam apa itu? Aku terkejut dengan perkataan Hanif. Orang macam apa dia dengan mudahnya mengiyakan? Aku benar-benar menatapnya kesal, tapi tak dapat ku pungkiri kekagumanku terhadap kepatuhannya. “Ayah tahu yang terbaik untukku.” Lanjutnya, ingin rasanya aku menguburkan diriku saat ini juga. Manusia dari planet mana dia? dan juga mengapa tak ada yang bertanya pendapatku?
“Bagaiman Arif, cocok tidak anak-anak kita?”
“Tentu saja Herman,” jawab ayah mantap.
“Ayah, aku masuk dulu. Masih ada tugas kuliah yang belum diselesaikan,” pamitku, aku tahu ini cara pengecut menghindar. Ayah mengangguk. “Paman Herman aku pamit ke dalam dulu.”
“Iya nak.” Timpal paman Herman lembut. Selanjutnya aku melangkah pergi setelah memberikan senyum anggukan ke Hanif dan dibalasnya dengan senyum anggukan pula.
Aku membaringkan tubuh lelahku di tempat tidur, ingatanku kembali ke kejadian beberapa waktu lalu. RIZKY. Laki-laki menjengkelkan, teman sekampusku. Sejak pertama kali aku menginjakkan kakiku di kampus, mataku langsung tertuju padanya. Keceriaan selalu berada dengannya, senyum terus tergores di bibir indahnya, pesonanya tak dapat ku hindari, namun mendekatinya begitu sulit, ia adalah laki-laki dengan kecerdasan dan kekayaan berada padanya, dan dia laki-laki menjengkelkan. Namun tak dapat ku pungkiri debar jantungku saat berada di dekatnya, saat matanya menatapku tak dapat ku pungkiri bahwa aku menyukainya lebih dari rasa suka itu sendiri diartikan. HANIF. Satu nama laki-laki dengan tutur kata yang mengagumkan, paras yang mempesona dengan kesuksesan berada dalam genggamannya. Laki-laki calon imam-ku, pilihan ayah. Dia yang membuat jantungku berdebar lebih cepat saat berada di dekatnya, dia yang membuatku berpikir ingin memilikinya. Lantas apakah ini berarti aku menyukainya? apakah ini berarti aku mencintai ia pada pandangan pertamaku? lalu bagaimana dengan Ardi? dia adalah laki-laki yang sangat ku cintai, dialah yang membuatku merasakan cinta untuk pertama kalinya. Apakah yang sebenarnya terjadi padaku? apakah aku mencintai ketiganya? bisakah seorang wanita mencintai laki-laki dalam satu waktu? jawabannya ‘YA’.
***
Baru saja aku keluar dari kampusku saat seorang wanita paruh baya menghampiriku. Aku merasa tidak mengenalnya.
“Kamu Airis nak?” tanyanya sopan dengan suara lembut keibuan.
“Iya bu.” Aku menjawab.
“Boleh ibu meminta waktumu sebentar saja.” Aku mengangguk setuju, kamipun berjalan menuju mobilnya dan menuju sebuah kafe.
***
Kepalaku masih berputar memikirkan kejadian beberapa menit yang lalu saat aku pulang ke rumah dan ku dapati Hanif bersama paman Herman sedang berbincang dengan kedua orang tuaku.
“Airis sudah pulang. Ganti baju sana nak, Hanif ingin mengajakmu jalan-jalan.” Ingin rasanya aku menolak, pikiran dan tubuhku masih terasa lelah, namun ku lihat Hanif yang sangat ingin mengajakku jalan jadi ku putuskan tidak menolak.
Kami menuju mall, Hanif mengajakku belanja namun ku tolak karena aku merasa kakiku tak dapat melangkah untuk berbelanja, jadilah sekarang kami duduk di kafe. Hanif dengan cappucinonya dan aku dengan cokelat hangatku. Kami diam, sibuk dengan pikiran masing-masing hingga Hanif berucap mengejutkanku.
“Ayah dan ayahmu sudah memutuskan tanggal pernikahan kita,” katanya dan membuatku terkejut hingga tak mampu berucap. “21 November.” Lanjut Hanif yang membuatku semakin terkejut.
“Apa?! bukankah ini sudah tanggal 28 September? itu berarti hanya tersisa satu bulan lebih?”
“Ya.” Jawabnya, aku menutup wajahku. Kepalaku tersa berat, mengapa tidak ada yang meminta persetujuanku?
“Aku tahu ini sulit untukmu dan itulah mengapa aku mengajakmu ke sini,” aku melihat ke arahnya yang juga sedang menatapku, “aku sudah setuju dengan pernikahan ini, bukan hanya karena kepatuhanku pada ayah tapi karena aku juga memang sudah menyukaimu sejak pertama kali melihatmu,” Hanif menarik napas, aku cukup terkejut dengan pengakuannya jadi aku menunggunya melanjutkan, “tapi aku belum mendengar pendapatmu.” Ungkapnya.
“Aku masih ingin kuliah.” Kataku asal.
“Itu bukan masalah buatku Airis, aku berjanji akan tetap mengizinkanmu kuliah hingga kau tak ingin lagi kuliah dan semuanya aku yang akan menanggungmu sebagai suamimu.” Timpal Hanif dengan sangat yakin.
“Baiklah aku tahu kamu mampu melakukannya dengan pekerjaanmu saat ini, tapi bisakah kamu memberiku waktu beberapa hari untuk menjawabnya? karena saat ini bukan hanya ada kamu dalam hatiku, ada Rizky teman sekampusku dan juga Ardi kekasihku sejak aku duduk dibangku kelas satu sekolah menengah atas.” Hanif terlihat terkejut dengan pengakuanku.
“Apakah aku bisa berharap? Berapa lama waktu yang kamu butuhkan?” Hanif bertanya lemah.
“Ya. Kamu bisa berharap karena bukan hanya kamu sudah memiliki restu orang tuaku tapi sejujurnya akupun menyukaimu sejak aku melihatmu di halaman belakang rumahku, tapi aku tidak bisa menjawabmu saat ini. Mungkin aku butuh 3 hari atau seminggu.”
“Baiklah aku akan menunggu jawabanmu.” Setelah itu kamipun diam dan sibuk dengan pikiran masing-masing.
Sepulang dari jalan bareng Hanif, aku beristirahat dan membaringkan tubuh lelahku di tempat tidur. Pikiranku melayang pada kejadian sepulang kuliah tadi. Ternyata ibu paruh baya itu adalah ibunya Rizky. Kami berbincang lama di kafe itu hingga akhirnya ibunya Rizky meminta sesuatu dan mengejutkanku. Ibunya Rizky mintaku menikah dan mencintai Rizky sama seperti Rizky mencintaiku. Aku terkejut, ternyata Rizky sudah mencintaiku sejak pertama kali ia melihatku saat OSPEK. Masih sangat jelas ku ingat perkataan ibunya Rizky.
“Ibu kini sudah tua, terlebih lagi ibu ada penyakit jantung. Sewaktu-waktu ibu bisa saja meninggal. Itulah mengapa ibu sangat ingin melihat anak ibu Rizky satu-satunya menikah dengan perempuan yang dicintainya dan hanya kamulah perempuan yang dicintainya. Sejak dulu ibu tidak pernah mendengar Rizky mencintai seseorang, barulah saat ini ibu mendengarnya dan dia menceritakan segalanya tentangmu,” ibu Rizky bernapas sebelum melanjutkan lagi, “Ibu tahu kamu tidak mencintai Rizky, tapi ibu mohon menikahlah dengannya dan nanti kamu akan bisa belajar mencintainya. Rizky sangat mencintaimu, cuma dia anak ibu satu-satunya, ibu tidak bisa melihatnya bersedih terus menerus. Apapun yang kamu inginkan, akan ibu berikan. Rumah, mobil, biaya kuliah atau kamu ingin kuliah di luar negeri, ibu akan memberikannya, apapun yang kamu inginkan asal kamu menikah dengan Rizky. Pecayalah Airis, Rizky akan membahagiakan kamu, Rizky selalu mendahulukan kebahagiaan orang-orang yang dicintainya daripada kebahagiaannya sendiri. Kamu tidak usah menjawab sekarang, pikirkanlah dulu baik-baik.” Terang ibu Rizky.
Aku tidak ingin bersatu dengan Rizky dengan cara seperti ini, andai saja Rizky mengungkapkan perasaanya sejak dulu mungkin aku bisa menerimanya karena akupun sudah mencintainya sejak lama atau andai saja cintaku terhadapnya tidak ada akan ku terima dia, bukan karena cinta mampu dibeli oleh uang tapi karena ini permintaan seorang ibu yang tulus mencintai anaknya. Lagipula ada banyak orang yang menikah dengan cinta sepihak tapi mereka tetap hidup bahagia dan berakhir dengan saling mencintai. Akan kupilih uang andai saja cinta tak ada bersamanya.
***
Aku bangun dengan kepala pening untung saja hari ini tidak ada mata kuliah jadi aku tidak perlu ke kampus. Aku melihat bunda sedang sibuk di dapur, aku duduk meminum secangkir teh.
“Ardi ada di depan Airis,” aku nyaris saja menyembur tehku, “Dia melarang ibu membangunkanmu jadilah dia menunggu dan sekarang sedang berbincang-bincang dengan ayahmu. Cepat mandi dan temui dia.” Aku berdiri bergegas.
“Airis,” bunda memanggilku saat aku berlari menaiki tangga menuju kamarku, “Hanif sudah menceritakan semuanya kemarin, bunda berharap kamu bisa mengambil keputusan yang cerdas.” Ucap bunda dan setelah itu aku kembali berlari menuju kamarku.
***
Saat ini aku dan Ardi duduk berhadapan ditemani cokelat hangat, aku melihat Ardi yang sedang menunduk menatap cokelat hangatnya. Aku tahu ia ingin mengatakan sesuatu, jadilah aku menunggunya.
“Aku sudah mendengar dari ayahmu tentang pernikahanmu,” ungkapnya, aku sudah menduga ayah sudah menceritakannya, “Bagaimana keputusanmu?” tanyanya dan aku menggeleng.
 “Jangan terlalu lama memikirkan masalah Airis, cepatlah buat keputusan. Itu akan membuatmu tenang. Ikuti kata hatimu.” Ucap Ardi menggenggam kedua tanganku. Aku diam memikirkan. Lama aku memikirkan, hingga akhirnya aku menemukan keputusanku.
“Baiklah Ardi. Maafkan aku, mungkin lebih baik aku memilih Hanif pilihan orang tuaku.” Kataku dan menunduk, aku tidak sanggup melihat ke arah Ardi.
“Baiklah, aku mengerti. Semoga hidupmu bahagia, jangan memikirkan aku, aku berjanji akan menemukan yang lebih baik darimu.” Aku tahu Ardi hanya ingin menyemangatiku, aku dapat mengetahui ada kesedihan dalam suaranya.
“Maafkan aku sudah melanggar janjiku. Aku mencintaimu.” Ucapku dan kulihat ia mengangguk.
Jika aku memilih Ardi pastilah orang tuaku tak akan setuju karena meraka pasti berpikir Ardi tidak dapat membahagiakan aku karena keadaan ekonominya dan fakta bahwa cinta harus ada uang bersamanya itu menyakitkan. Akan kupilih cinta andai saja uang ada bersamanya.
***
Sepulang jalan dengan Ardi aku menuju rumah Rizky, ibunya menyambutku dengan bahagia tapi sayang aku memberikan kabar yang tak membahagiakan. Ibu Rizky sedih tapi ia mengerti, aku juga memberitahukan perihal pernikahanku dengan laki-laki pilihan orang tuaku.
Di rumah aku langsung menghampir bunda dan memeluknya. “Katakan iya pada orang tua Hanif, bunda.” Ucapku dan seketika air mata bunda pecah. Setelah memberitahukan bunda, aku menuju kamarku dan ku kirimi pesan Hanif.
To : Hanif
IYA.
Selang beberapa menit, satu pesan baru masuk.
From : Hanif
Terima Kasih. {}
Kupilih Hanif bukan saja karena dia pilihan orang tuaku tapi karena aku juga mencintainya dan ia juga sudah memiliki kesuksesan dalam genggamannya. Andai saja pilihan untuk menikah dengan Hanif tak pernah ada, mungkin aku tak akan memilih cinta dan uang dalam waktu yang sama. Tak akan kupilih keduanya andai saja pilihan tak pernah ada.
Akhirnya pilihan jatuh pada CINTA yang ada UANG bersamanya, bukan UANG yang ada CINTA bersamanya, ataupun CINTA namun tak ada UANG bersamanya. Jadi pilihlah Cinta terlebih dahulu UANG adalah yang kedua bukan UANG terlebih dahulu barulah CINTA yang kedua.


~ SELESAI ~

Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen “Pilih Mana: Cinta Atau Uang?” #KeputusanCerdas yang diselenggarakan oleh www.cekaja.com danNulisbuku.com

Rabu, 21 Oktober 2015

NAMUN ...

NAMUN ...

Meskipun lidah memungkiri
Namun bibir tak mampu berlik
Meskipun perangai berpretensi
Namun tindakan menolak

Meskipun mata kuasi mengelakkan
Namun tetes bening tak mampu mengingkari
Meskipun pikiran ingin meluputkan
Namun hati tak dapat mendustai

~Jinan Lahfah~


Selasa, 29 September 2015

Completion Of The Hassle #2

Completion Of The Hassle #2
Aku memandangi mereka dengan segala kesedihanku, aku selalu bermimpi menjadi dia yang berada diposisi itu. Duduk bersamanya, tertawa, dan berbagi cerita bahagia. Aku ingin berada dalam rangkulannya dengan semua orang melihat dan tahu tentang kami yag saling memiliki. Tapi apatah daya takdir tak sesuai dengan apa yang diharapkan, perempuan dengan rambut hilam lurus, berkulit putih bersih, dengan mata hitam indah legamnyalah yang berada dalam posisi yang ku impikan, yang selalu mendengar sapaan “Gadisku” dari seorang laki – laki yang ku idamkan. Entah dengan alasan apa takdir baik tak pernah memihak kepadaku.
“Apakah kau akan terus melamun dengan muka masammu itu?” seseorang mengejutkanku dan aku berbalik melihatnya.
Aku tidak mengenali laki – laki yang sedang berdiri di hadapanku, ini pertama kalinya aku melihatnya.
“Apa kau mengenaliku?” tanyanya dan membuatku bertambah heran. Bukankah pertanyaan itu seharusnya dilontarkan olehku?
“Tidak. Apa kau mengenalku?” aku menggeleng dan balik bertanya.
“Ah, sudah kuduga. Tentu aku mengenalmu.” Jawabnya dengan menyilangkan lengan di depan dadanya.
“Bagaiman kau bisa mengenalku?” aku masih tidak mengerti dengan laki – laki bermata hijau indah di hadapanku ini.
“Ah lupakanlah. Namamu Andinda Rain Agimuzg kan?” tanyanya dan duduk di kursi sebelahku, aku mengangguk masih dengan kebingunganku.
“Baiklah namaku Alfrad Varsa Alfarado. Kau boleh memanggilku Varsa.” Katanya dengan senyum yang baru ku sadari mampu membuat siapapun melihatnya terdiam.
“Baiklah Varsa. Apa kau siswa baru?”
“Tentu saja, kau baru melihatku kan?” Aku mengangguk.
“Kelas mana?”
“Tepat disebelah kelasmu. Kau tidak tahu?” aku tidak tahu dia sangat suka balik bertanya.
“Tidak. Tidak ada gunanya mengetahuinya, lagipula kau tidak menghebohkan sekolah dengan kehadiranmu.” Jawabku mengalihkan perhatianku kembali dengan minumanku.
“Apa kau yakin?” dia masih bertanya, aku melihatnya sedang tersenyum dan mengangkat sebelah alisnya. Aku mengerutkan kening heran dan memasang muka tak mengerti.
“Kau masih saja sama. Lihat sekelilingmu.” Perintahnya.
Aku spontan melihat sekeliling dan betapa terkejutnya aku dengan semua orang atau lebih tepatnya perempuan yang ada di kantin sekolah sedang memperhatikanku. Oh tidak, mereka memperhatikan Varsa. Aku melihat ke arah Varsa yang tersenyum, tiba – tiba aku mendengar jeritan kecil dan samar – samar suara yang memuji senyuman Varsa.
“Kau sudah sadar dari dunia kesendirianmu?” aku mengangguk.
“Bagaimana bisa?” aku bertanya heran dan masih terkejut.
“Karena aku memiliki wajah tampan.” Jawabnya percaya diri.
“Oh ya ampuunn. Kau sangat percaya diri.” Kataku menggeleng terkejut dengan perkataannya.
“Tentu saja aku percaya diri, ini kenyataan. Aku memang benar – benar memiliki wajah yang tampan.” Aku berdecak mendangarnya.
“Terserah apa katamu.” Kataku dan kembali dengan minumanku.
“Hei,” dia menggenggam wajahku, “Aku disini untuk membantumu keluar dari kesendirianmu, aku akan menemanimu, dan kau tidak akan pernah sendiri lagi.” Ucapnya dengan mata hijaunya memandang ke dalam mata hitamku dan bersungguh – sungguh.
Aku menatap mata hijaunya yang bahkan mengalahkan hijaunya rumput di taman sekolah. Aku terpaku dengan matanya dengan bulu mata lentik melengkapi keindahannya. Aku begitu terhanyut dengan matanya hingga melupakan perkataannya.
“Rain, jangan memandangiku seperti itu. Bicaralah.” Aku tersadar.
“Aku tidak mengerti dengan ucapanmu.” Kataku jujur.
“Baiklah. Aku mengerti, kau terlalu mengagumi mataku hingga melupakan perkataanku.” Ucapnya yang membuatku tersedak dan malu karena tertangkap basah.
Dia berdiri mengambilkan minuman untukku karena milikku telah habis. Semua yang ada dalam kantin menatapnya kagum. Sepertinya takdir baik mulai berpihak kepadaku.
“Minumlah.” Perintahnya sambil menyodorkan segelas air putih. Aku menerimanya dan berterima kasih.
***
Dia sedang berbicara dengan siswa baru yang menggemparkan sekolah sejak pagi tadi dengan kehadirannya. Ini pertama kalinya aku melihat ada seseorang menyapanya dan bahkan bercakap lama dengannya di lingkungan sekolah ini. Dia dikenal dengan sikap diamnya dan kecerdasan yang dimilkinya. Aku memeperhatikan mereka, Rain terlihat beberapa kali bingung dan heran. Selain itu, Rain masih seperti biasanya, dia tidak memperhatikan sekelilingnya yang sekarang banyak pasang mata yang memperhatikan mereka. Tiba – tiba siswa baru yang ku tahu namanya dari Raras adalah Varsa memegang wajah Rain, aku sangat terkejut dengan keberanian Varsa, aku saja tidak pernah berbuat seperti itu.
Varsa terlihat sedang membisikkan sesuatu kepada Rain, tapi Rain tidak memperhatikan Varsa. Sepertinya Rain sedang menatap ke dalam mata Varsa, yang tak sengaja ku lihat tadi berwarna hijau. Aku tahu, pasti Rain sedang mengaguminya karena aku tahu obsesi Rain terhadap warna hijau.
Varsa kembali berbisik sesuatu dan Rain tersedak. Spontan aku ingin berdiri mengambilkannya minum, tapi aku terasadar dengan gadisku yang berada di sampingku. Varsa mengambilkannya segalas air putih dan menepuk bahu Rain yang masih terbatuk.
Seharusnya aku merasa senang dengan kehadiran Varsa, itu berarti jalanku untuk meninggalkan Rain semakin mudah dan aku tidak perlu khawatir dengan Rain lagi. Namun, aku tidak mengerti mengapa aku merasa berbeda, seharusnya aku bahagia tapi aku merasa lain. Seperti aku tidak rela atau apalah, aku tidak tahu. Perasaan apa ini?

***



Minggu, 27 September 2015

Completion Of The Hassle

Completion Of The Hassle #1
"Tidak bisakah kau berhenti mengeluh? aku benar-benar lelah mendengar keluhanmu." Aku tidak tahu ini sudah kesekian kalinya ia berteriak kepadaku, tapi masih saja aku mencintainya.
"Aku bukan mengeluh, aku hanya ingin membagi ceritaku kepadamu.” Ucapku pelan dan menunduk, aku takut akan marah dan berakhir dengan tangisan.
“Tapi ceritamu secara tak langsung mengeluh.” Suaranya mulai merendah.
“Baiklah. Maafkan aku, itu tidak akan terjadi lagi.” Janjiku untuk berulang kali.
“Kau terus berjanji seperti itu, namun kau terus mengulanginya.” Ucapnya lirih.
“Aku benar-benar berjanji.” Janjiku tegas.
“Baiklah, terserah padamu. Aku lelah. Aku harus pulang, lagipula aku tidak ingin Raras melihatku denganmu.” Ucapnya dan berdiri meninggalkanku.
Aku terus menatap punggungnya yang meninggalkan kedai kopi, meninggalkan aku sendiri. Laki – laki yang telah mengambil hatiku, ia telah memiliki semuanya. Aku sangat mencintainya hingga membuatku berbuat nekat menempatkan diriku diposisi ini yang sangat melelahkan dan menakutkan, namun terlepas dari itu ada bagian yang membuatku bahagia.
***
Aku meninggalkannya begitu saja di kedai kopi itu, seorang diri. Aku sadar dia butuh tempat bercerita dan hanya aku saja yang dimilikinya, seharusnya aku mendengarkannya tapi aku terlalu takut untuk itu, aku takut aku semakin mencintainya dan tak mampu meninggalkannya, padahal saat ini aku sedang mempersiapkan untuk meninggalakannya dan membiarkannya melihat dunia yang tak hanya ada aku, dia, dan gadisku.

***




Sabtu, 18 April 2015

Cowok di Gerbang Sekolah

Cowok di Gerbang Sekolah
Matahari sangat terik ketika ku langkahkan kakiku meninggalkan sekolah. Bunda sudah menungguku di depan gerbang sekolah. Jarak kelas ku dengan gerbang sekolah cukup jauh, gerbang sekolah ada di area depan dan kelasku berada di area sekolah paling belakang hingga di belakang kelasku tersisa tembok pembatas antara sekolah dan  rumah-rumah warga.
Ketika aku sampai di gerbang sekolah tak ku lihat mobil bunda di manapun. Akupun memutuskan untuk menunggu bunda sebentar sambil bersandar pada gerbang sekolah. Sementara aku melamun tiba-tiba seseorang menegurku dan mengejutkanku.
“Belum pulang?” tanyanya.
Aku terkejut melihatnya. Dia cowok manis. Kulit hitamnya yang bersih dan senyumnya, ia terlihat begitu manis menyapaku. Aku tersadar ketika ia menatapku menungguku menjawabnya.
“Belum. Bunda belum datang.” Jawabku mencoba untuk tidak tergagap karena detak jantungku yang berdetak cepat.
“Perlu aku temani?” tanyanya lagi.
“Tidak. Terima kasih, sepertinya bunda datang tidak akan lama lagi.” Jawabku menolak. Aku tidak mungkin menerima tawarannya menemaniku menunggu bunda hingga datang, aku tidak sanggup ia berada di dekatku, mungkin saja 10 menit bersamanya aku bisa saja pingsan karena jantungku yang berdetak cepat dan nafasku yang tertahan.
“Baiklah.”
Tak cukup lama kepergian cowok itu bundapun datang. Selama perjalanan pulang aku terus memikirkan kejadian tadi dan dengan bodohnya, aku lupa menanyakan namanya. Besok aku akan bertanya pada Geby sahabatku, mungkin saja ia mengetahuinya.
Keesokan harinya setiba aku di sekolah, aku melihat Geby dengan wajah yang terlihat sangat senang.
“Ada apa? Kamu terlihat sangat senang.” Tanyaku pada Geby setelah duduk di sebelahnya.
“Kak Abiy menembakku kemarin. Aku menerimanya.” Ungkap Geby
“Kak Abiy? Aku tidak mengenalnya, tapi ku ucapkan selamat buatmu, buat kalian.”
“Terima kasih. Nanti aku kenalkan kamu ke dia.”
“Baiklah. Oh iya, kemarin waktu pulang sekolah, aku bertemu seseorang. Dia menyapaku dan menawarkan diri menemaniku menunggu bunda yang belum datang tapi aku menolak.” Ceritaku pada Geby.
“Terus ada apa? Aku tidak mengerti ke mana arah pembicaraanmu.” Kata Geby bingung.
“Aku suka dengan dia. Dia sangat manis, kulit hitamnya yang bersih dan senyumnya yang manis.” Ungkapku
“Benarkah? Siapa dia? Namanya siapa?” tanya Geby antusias
“Aku tidak tahu.” Kataku sedih
“Jangan sedih. Aku akan membantumu mencari tahu. Jelaskan saja semua yang kau tahu tentang dia padaku dan aku akan mencari tahu selebihnya.” Hibur Geby dan menawarkan membantuku.
“Tidak. Aku ingin mencari tahu sendiri.” Tolakku
“Baiklah. Kalau butuh bantuanku jangan sungkan.” Kata Geby kemudian.
Waktu untuk pulang sekolah tiba tapi kami terdiam di dalam kelas, terjebak hujan, hanya Geby yang sudah menghilang. Katanya dia membawa payung dan akan pulang bersama pacarnya, kak Abiy.

Aku berdiri di depan kelas menengadahkan tanganku ke langit tak terjamah, membiarkan air hujan mengenai telapak tanganku dan percikannya mengenai seragamku. Aku sangat menyukai hujan. Hujan sedikit mereda aku berfikir untuk tidak tinggal dan melangkah meninggalkan kelasku. Belum sampai aku di gerbang sekolah, berjarak sekira 100 meter di depanku, ku lihat Geby dan kak Abiy sedang tertawa di bawah satu payung berdua milik Geby. Namun bukan itu yang menjadi perhatianku tapi cowok yang bersama Geby. Dia cowok di gerbang sekolah hari itu, ternyata dia kak Abiy, pacar sahabatku.

~JL~

Kamis, 16 April 2015

BULAN KEMENANGAN

Bulan Kemengan
Hujan gerimis menemani gelapnya malam, lalu dipadu dengan dinginnya sang bayu berhembus. Layaknya hati ditemani sakit namun rindu membayanginya. 

Satu nama bak ratu terus bertahta dalam kerajaan hati, tak ada yang mampu melengserkannya bahkan ketika aku sang raja, satu-satunya pemilik kerajaan hati sebelumnya harus mengarahkan panah tepat di jantungnya. Namun lagi, dia layaknya bulan yang selalu memiliki kemenangan dalam peruntungannya. 

Masa demi masa ku lalui dengan bertarung dengannya hingga tanpa ku sadari racun hidup bernama cinta meracuniku, menggerogoti pikiranku, menyerang setiap sel darahku. Aku diam tak melawan kerena racun telah mengalahkan segala kekuatanku, melumpuhkanku hingga menjadi lemah dari yang terlemah, hingga dia sang bulan mengarahkan panahnya tepat dihatiku. Semakin melukai hati yang sakit, lalu pergi meninggalkan aku sang raja lemah tertunduk. 

Ingin ku duduki kembali tahtaku, namun kaki serasa tak mampu menjejakinya, menghampiri singgasana kerajaan hati, seakan dia masih duduk di sana. Menikamati nyamannya kerajaan hati, namun tak dia tampakkan wajah bulan kemenangannya. 

Dia pergi tak kembali, meninggalkan nama. Aku sang raja duduk membeku dihadapan singgasana kerajaan hati memeluk rindu dalam dekapku. Menunggu kehadiran sang pemilik kerjaan, Sang bulan kemenangan. Zahra' Zhafrah.





Selasa, 14 April 2015

Perasaan Selalu Punya Jalan Untuk Kembali

Perasaan Selalu Punya Jalan Untuk Kembali
Langkahku terhenti seketika, sosok malaikat yang hingga saat ini masih ku kagumi, melintas disudut mataku. Aku terkejut diam sebelum memutar Sembilan puluh derajat tubuhku melihat sosok yang sangat ku kenal. Sosok yang masih tergambar jelas wajahnya dalam indraku, tersimpan rapi namanya dalam pikiranku, meskipun sudah lewat 6 tahun.
Kubisikkan namanya yang tanpa ku sadari menjelma teriakan, ia berbalik dan menatapku sama terkejutnya denganku. Hingga aku kembali tersadar, aku menghampirinya yang masih menatapku tak berkedip.
Segores senyum terukir dibibir indahnya, senyum yang membuatku luluh dan yang membuatku selalu tenang. Aku kini berdiri tepat di hadapannya, dia masih saja diam tanpa berucap sepatah katapun. Aku mencoba menyapanya.
“Hai?” aku mengulurkan tanganku.
Dia menatap tanganku sebelum membalasnya, dia menggenggamku sangat erat. Aku menarik tanganku karena merasa risih berada lama dalam genggamannya. Dia tak melepasku, aku memberikannya senyum dan dia masih belum lagi berucap. Sebelum keherananku padanya hilang, dia menarik dan memelukku. Aku terkejut.
Lama dia memelukku.
“Hai.” Dia melepaskan pelukannya.
“Hai.” Balasku.
“Sudah lama tidak bertemu denganmu.” Ucapnya lagi.
“Yah. Ku pikir sudah 6 tahun.”
“Adit.” Seseorang dari dalam toko boneka memanggil Adit, kami melihat ke arahnya, dia menghampiri Adit.
“Ku pikir ini boneka ini yang bagus. Bagaimana menurutmu?” dia menggamit lengan Adit dan memegang boneka doraemon.
“Terserah denganmu, kalau menurutmu itu bagus menurutku juga begitu.” Adit tersenyum kepadanya.
Dia melihat ke arahku dengan kening berkerut, aku memberikan segores senyum.
“Oh iya Fit. Kenalkan ini teman SMAku Sita, dan Sita ini Fitri.” Aku mengulurkan tanganku kepada Fitri.
“Fitri.” Membalas uluran tanganku.
“Sita.”
“Fit, kamu bisa pulang lebih dulu?” Adit kembali berbicara pad Fitri.
“Lalu kamu bagaimana?” Fitri menatap heran Adit.
“Aku bisa naik taksi pulang, kamu pulanglah dulu. Aku ada urusan sebentar dengan Sita.” Adit melihatku yang juga diikuti Fitri.
“Baiklah.” Adit memberikan kunci pada Fitri lalu mengecup keningnya.
“Pacar kamu?” aku bertanya setelah Fitri pergi dan Adit mengangguk.
“Kamu tidak sibuk kan?”
“Aku masih harus kembali ke kantor, tapi tidak apalah lagi pula masih ada 15 menit jam istirahat.” Ucapku tersenyum.
“Singkat yah, padahal aku ingin berbicara banyak denganmu.” Dia terlihat sedikit kecewa.
“Tidak apa-apa, aku bisa melewatkan beberapa menit. Bosku tidak akan marah.” Dia terlihat senang dengan ucapnku.
Kami berjalan menuju sebuah kafe. Kami duduk berhadapan. Aku memesan cokelat hangat dan dia memesan jus jeruk.
“Kamu masih sama seperti dulu.”
“Apa?” aku mengerutkan kening.
“Cokelat hangat.”
“Oh.” Aku tersenyum, aku tidak menyadari. Meskipun aku suka cokelat hangat, seharusnya aku tidak memesan itu di hadapannya atau saat dia ada.
“Kamu juga.” Aku teringa dengan pesanannya jus jeruk.
Dulu, Adit yang mengajariku menyukai cokelat hangat, begitupun sebaliknya. Adit pertama kali minum jus jeruk di rumahku, jus buatanku. Adit adalah cinta dan pacar pertamaku, begitupun dengan Adit, aku adalah cinta dan pacar pertamanya. Waktu itu kami duduk di bangku sekolah menengah atas, kami satu kelas.
Suatu hari ketika pertengkaran orang tuaku berakhir dengan keputusan berpecerai. Aku meninggalkan rumah dan mengendarai motorku dengan kecepatan tinggi. Aku menuju taman kota, duduk disalah satu bangku dengan pandangan kosong, ingin rasanya aku menangis namun air mata serasa sudah habis. Hingga hujan lebatpun mengguyur barulah aku meneteskan air mata, aku tidak bangkit dari dudukku ketika hujan semakin deras, ku biarkan hujan membasahiku dan berharap membawaku pergi bersamanya ketika ia juga pergi.
Ku benamkan wajahku dibalik kedua telapak tanganku hingga ku rasakan lengan di pundakku, aku mengangkat wajahku dan melihat Adit di sebelahku.
“Sudah terlalu lama kau terkena hujan, ayo pulang.” Adit menatapku meminta.
“Tidak. Pulanglah Adit, jangan kau mengikuti seperti ini. Kau akan sakit.” Ucapku melepaskan rangkulannya.
“Tidak. Aku tidak akan pulang jika kau tidak ikut denganku.” Adit keras kepala.
Akupun memutuskan untuk pulang karena ku takut Adit sakit. Namun ketika aku mencoba berdiri, kakiku terasa sakit. Adit melihatku dan dia langsung menggendongku di pundaknya. Dia mendudukkan ku dimobil miliknya, aku menanyakan tentang motorku dan dia berkata untuk tidak memikirkannya. Dia akan mengambilnya ketika hujan mereda.
Ibu Adit membantuku, dia membantuku mengganti pakaianku setelah itu mengompresku. Adit datang ketika ibunya sudah membaringkanku. Aku sangat bersyukur atas bantuan Adit dan ibunya.
“Biarkan aku merawatnya bu.” Aku mendengar Adit berucap.
Setelah kejadian itulah aku dekat dengan Adit, dia selalu ada saat aku sedih. Dia selalu menghiburku dan menenangkan aku. Hingga disatu hari kami memutuskan untuk berpacaran.
Kami putus ketika lulus SMA, Adit memutuskan kuliah kedokteran di Belanda.
***
Aku merasakan ponselku berdering, ku lihat foto Rizky terpampang dilayar ponselku. Aku meminta izin pada Adit dan dia mengangguk.
“Pacar?” Adit bertanya ketika aku sudah menyelesaikan pnggilan Rizky. Aku mengangguk.
Setelah itu kami mengobrol lama. Adit bercerita tentang kuliahnya di Belanda, bercerita tentang pertemuannya dengan Fitri yang juga kuliah sama dengannya. Hingga diakhir pembicaraan kami berjanji akan bertemu lagi dihari minggu. Kami bertukar nomor ponsel.
Sejak kebersamaan kami menjelajahi wisata alam dihari minggu, kami kembali dekat. Kami sering bertemu dan jalan bersama. Menikmati libur bersama.
Sudah 3 bulan kami dekat, sebulan lalu aku putus dengan Rizky kerena orang tuanya menjodohkan dia dengan kerabatnya. Setelah itu, dua bulan lalu Adit juga putus. Fitri menyukai salah seorang teman Adit.
Saat ini, baik Adit maupun aku, kamu tidak memiliki hubungan dengan siapapun dan akhirnya kami memutuskan kembali berpacaran. Kami tidak bisa membohongi perasaan dan sekuat apapun kami menyangkal perasaan, kami tetap tidak bisa. Perasaan selalu punya jalan untuk kembali. 

~JL~

Minggu, 22 Maret 2015

DOA

DOA

Dalam keheningan malam aku terjaga
Mengingat tugasku sebagai hamba
Menjalankan perintah-Nya
Tanpa ada desir paksaan dalam hati

Dalam salat malamku aku memohon
Dalam sujudku aku meminta pengampunan
Dalam doaku aku bercerita dan meminta
Bercerita akan hidup, meminta akan kemudahan

Ku panjatkan doa pada Sang Maha Pencipta
Bulir bening menetes tanpa ku sadari dan ku pinta
Ku bercerita dan meminta pada setiap bait doaku
Ku sampaikan pesan penyerahanku pada-Nya

Melalui doa, ku titipkan keinginanku
Aku yakin Tuhan Mendengarku
Aku yakin Tuhan akan mengabulkannya

Karena aku percaya kekuatan sebuah doa

Jumat, 13 Maret 2015

LOMBA TEMA POHON KENANGAN DAN RINDU

OLEH : RISTY ARVEL DAN OCHA THALIB

A. LOMBA TEMA RINDU (Oleh : Risty Arvel)
Jumpa lagi di tahun 2015. Ini event pertama dari Meta Kata di tahun ini. Kali ini event yang dipandu oleh Risty Arvel mengangkat tema tentang kerinduan. Kerinduan seseorang, bisa kepada kekasih, sahabat, orang tua, nenek, kakek atau siapa pun itu. Kerinduan yang digambarkan dengan luar biasa dalam kepada orang lain. Kepada siapakah kerinduanmu tertaut?
Tak perlu berpanjang-lebar ini dia persyaratannya :
  1. Lomba terbuka untuk umum.
  2. Lomba dibuka dari tanggal 15 Februari sampai dengan 15 Maret 2015 (pukul 23:59 WIB).
  3. Membagikan info lomba ke minimal 20 teman facebook, twitter, atau posting di blog pribadi (pilih salah satu).
  4. Like FansPage “Penerbit Meta Kata” dan harus bergabung dalam grup “Pena Meta Kata”, tidak harus berteman dengan meta kata atau Risty Arvel atau Bunda Ocha Thalib.
  5. Naskah dalam bentuk  :Flash Fiction : panjang naskah maksimal 700 kata, ditambah biodata narasi maksimal 50 kata (lengkapi dengan akun facebook dan alamat email). Naskah dan biodata narasi tidak boleh dipisahkan. Atau Puisi : panjang naskah 16 baris boleh ditulis dalam 4 bait boleh lebih dan ditambahkan biodata narasi maksimal 50 kata (lengkapi dengan akun facebook dan alamat e-mail) Biodata narasi tidak boleh dipisah dengan naskah.
6. File naskah menggunakan format Ms. Word 2003/2007, A4, Time New Roman 12pt, spasi 1.5cm, batas margin rata-rata 3 cm (1,18 inci) untuk setiap sisinya.
7. naskah dikirim dalam bentuk attachment dan tulis subjek email dan nama file:Puisi/ff_judul_nama penulis jika dikirim ke arvelristy13@gmail.com.
8. Setiap peserta hanya boleh mengirimkan satu naskah terbaiknya bisa dalam bentuk Flash Fiction atau puisi.
9.Update peserta bisa dilihat di dokumen grup “pena meta kata” dengan nama “Update Peserta event Rindu” yang dilakukan oleh Risty Arvel setiap hari senin dan kamis.
10.  Akan dipilih 2 (dua) naskah pemenang masing-masing event yang akan mendapatkan hadiah berikut:
FF terbaik : souvenir dari penerbit meta kata + Voucer Penerbitan Senilai Rp 100.000 + E-sertifikat
Puisi terbaik : souvenir dari penerbit meta kata + Voucer Penerbitan Senilai Rp 100.000 + E-sertifikat
#Catatan: Hadiah dalam bentuk VOUCHER PENERBITAN, hanya berlaku selama 6 bulan setelah pengumuman pemenang dan tidak dapat diuangkan juga tidak dapat digabungkan dengan voucher lainnya.
11.  Selain naskah pemenang, juga akan dipilih puluhan naskah nominator yang akan dibukukan bersamaan dengan naskah pemenang dan setiap nominator akan mendapatkan diskon 10% dalam pembelian buku terbit dan kontributor yang membeli akan memperoleh sertifikat cetak dan e-sertifikat yang dikirim ke e-mail.
12.  Hasil lomba akan diumumkan pada tanggal 28 maret 2015.


B. LOMBA TEMA POHON KENANGAN (AKU, KAMU DAN POHON KENANGAN KITA) oleh Bunda Ocha Thalib
Tema kedua yang ditawarkan dan dipandu oleh Bunda Ocha Thalib mengangkat tema tentang aku, kamu dan pohon kenangan kita.

…Ingatkah kamu pada pohon ketapang yang kita tanam mengelilingi ladang Ayahku? Pohon-pohon itu telah melebarkan ranting-rantingnya, menjulur hingga ke jalan. Mereka kini meneduhkan siapa pun yang melewatinya, mereka melindungi siapa pun dari panas atau pun hujan, seperti impian kita.
Sayangnya, mereka tak mau menghapuskan rasa takutku kehilanganmu….

Punyakah kalian kenangan tentang pohon kenangan? Atau pengalaman menggugah rasa tentang menanam pohon? Mungkin saja kan dari fiksi kalian akan menggerakkan seseorang untuk menanam pohon lebih banyak lagi, dan bukan mencoret-coretnya apalagi apabila bisa mencegah seseorang menebangnya secara sembarangan. Oke tak perlu berpanjang-panjang, ya, yuk ikutan dan simak aja persyaratannya sebagai berikut :
1. Lomba terbuka untuk umum.
2. Lomba dibuka dari tanggal 15 februari sampai dengan 15 maret 2015 (pukul 23:59 WIB).
3. Membagikan info lomba ke minimal 20 teman facebook, twitter, atau posting di blog pribadi (pilih salah satu).
4. Like FansPage “Penerbit Meta Kata” dan harus bergabung dalam grup “Pena Meta Kata”, tak harus berteman dengan Risty Arvel, Meta Kata atau Bunda Ocha Thalib. 
5. Naskah dalam bentuk  : Flash Fiction panjang naskah maksimal 700 kata, ditambah biodata narasi maksimal 50 kata (lengkapi dengan akun facebook dan alamat email). Naskah dan biodata narasi tidak boleh dipisahkan.
6. File naskah menggunakan format Ms. Word 2003/2007, A4, Time New Roman 12pt, spasi 1.5cm, batas margin rata-rata 3 cm (1,18 inci) untuk setiap sisi.
7. Naskah dikirim dalam bentuk attachment dengan subjek email dan nama file:ff_judul_nama penulis dikirim ke pena.metakata@gmail.com
8. Setiap peserta hanya boleh mengirimkan satu naskah terbaiknya.
9. Update peserta bisa dilihat di dokumen grup “pena meta kata” dengan nama “Update Peserta event pohon kenangan”.
10. Akan dipilih 2 (dua) naskah pemenang masing-masing event yang akan mendapatkan hadiah berikut: Dua FF terbaik : souvenir dari penerbit meta kata + Voucer Penerbitan Senilai Rp 100.000 + E-sertifikat
#Catatan: Hadiah dalam bentuk VOUCHER PENERBITAN, hanya berlaku selama 6 bulan setelah pengumuman pemenang dan tidak dapat diuangkan juga tidak dapat digabungkan dengan voucher lainnya.
11. Selain naskah pemenang, juga akan dipilih puluhan naskah nominator yang akan dibukukan bersamaan dengan naskah pemenang dan setiap nominator akan mendapatkan diskon 10% dalam pembelian buku terbit dan kontributor yang membeli akan memperoleh sertifikat cetak dan e-sertifikat yang dikirim ke e-mail.
12. Hasil lomba akan diumumkan pada tanggal 28 Maret 2014



Oke, Selamat berkarya….
Salam,
a.n.
Penanggungjawab
Risty Arvel dan Bunda Ocha Thalib