Aku dengan caraku, karena aku berbeda. :)

Jumat, 19 Desember 2014

UNTUK KAU YANG MENGABAIKANKU :'(

UNTUK KAU YANG MENGABAIKANKU

Saat teriakan itu terlontar dibibirmu
Menggema didaun telinga terdalamku
Menusuk bagian terdalam tubuhku
Menyentuh bekunya perasaan tertahanku

Ku tahan sebulir bening di pelupuk mata
Ku tahan luapan marah tak tumpah
Sesak ku rasakan dalam dada
Kesakitan menahan batin merintih

Langit mendengar sakitku
Hingga hujan turun menemaniku
Menenggelamkan isakku dalam derasnya
Menyembunyikan sakitku diantara guyurannya

Tak sadarkah kau akan teriakanmu
Tak sadarkah kau akan ucapanmu
Tak sadarkah kau akan diriku
Kau tak sadar dengan apa aku

Kau mengabaikanku sejak dulu
Bahkan ketika aku belum mengenalmu

Kamis, 18 Desember 2014

PERJALANAN BEJIBUN TANYA

PERJALANAN BEJIBUN TANYA
Karya : Nur Azizah Amaliah

Aku berdiri tepat di bawah pohon yang rindang. Semilir angin sepoi – sepoi mendatangkan kesejukan. Saat memandang sekeliling aku menyadari, aku sedang berada disebuah padang rumput yang begitu hijau. Aku berputar memandang sekeliling dan satu hal lagi yang ku sadari, padang rumput ini berbentuk lingkaran dengan sebatang pohon yang rindang tepat berada ditengahnya dan sekarang aku di bawah pohon tersebut dengan sebuah bangku putih di sebelah kananku.
Ketika aku akan duduk dibangku putih, sebuah tangan menyentuh pundakku. Aku berbalik namun tak kutemukan seorangpun di sana. Aku mengurungkan niatku untuk duduk, ku langkahkan kakiku menuju tepi padang rumput namun saat langkahku yang ketiga, tiba – tiba angin bertiup dan menghempasku, kupejamkan mata. Setelah angin itu tidak ku rasakan lagi, ku buka mataku dan seketika cahaya putih yang menyilaukan menyeruak menuju kornea mataku, kembali mata kupejamkan. Lalu ku buka mata perlahan – lahan, membiasakannya dengan cahaya itu hingga akhirnya aku bisa melihat dengan baik dan ku sadari aku sudah berdiri di tengah – tengah jalan dengan sebuah lorong tak berujung dihadapanku.
Aku berjalan hati – hati dan memandang lurus kedepan, bejibun pertanyaan dibenakku dan rasa ingin tahu mengalahkan ketakutanku. Semakin lama aku melangkah, semakin tak kulihat ujung dari jalan ini. Cahaya menyilaukan terus saja menghantam kornea mataku, namun tak mampu menghilangkan fokusku. Sekelebat bayangan dihadapanku melintas, langkahku terhenti. Dimana aku sebenarnya? Pertanyaan itu tiba – tiba muncul di kepalaku.

Siapa dia.? Belum mampu ku kembalikan fikiranku, berjarak 50 meter didepanku seseorang berdiri. Tidak. Dia bukan manusia. Dia gelembug. Bukan. Dia air. Tidak. Mengapa dia punya wujud.? Jika ia air mengapa dia berwujud manusia dan ku biarkan fikiranku menamakannya manusia air. Dia melambai ke arah ku, seolah aku telah terprogram, ku ikuti langkahnya, mengekor di belakangnya. Namun lagi, belum ku lihat ujung jalan ini. Dan tak ku mengerti mengapa aku mengikutinya dan jalan tak berujung ini. Dan perjalananku ini tak tahu akan berakhir dimana dan bagaimana aku mengakhirinya. 

Jumat, 05 Desember 2014

Part II

Hey, kau yang ada disana
Entah mengapa, setiap aku bertemu denganmu, pipiku merona layaknya glukosa yang ditetesi fehling A & B. Otot tulang rusuk dan diafragmaku berkontraksi relaksasi, bertalu-talu memburu nafasku. Serebrum dan serebelumku lamat-lamat melupakan tugasnya.

Hey, kau yang ada disana
Kau tahu, mengapa hatiku terikat oleh benang-benang spindel hatimu? Karena kau adalah mitokondria yang menghasilkan energi-energi kehidupanku. Karena kau adalah auksin yang mampu membuat pucuk-pucuk hatiku menjulang ke awan-awan. Karena kau adalah Rhizobium yang senantiasa mengikat N2 cintaku.

Hey, kau yang ada disana
Tidakkah kau sadari, bahwa kita berdua adalah gen komplementer− yang akan tetap menghasilkan filial-filial yang tuli dan gagu bila kita tak bersatu? Bahwa kita adalah Nitrosomonas dan Nitrosoccocus yang takkan mampu mengubah amoniak menjadi nitrit tanpa kehadiran yang lainnya?

Hey, kau yang ada disana
Hatiku akan selalu bersimbiosis dengan hatimu, tak peduli apakah kita ini homologi atau analogi, heterozigot atau homozigot. Tak peduli meskipun kau memiliki beribu-ribu lisosom dan aku hanya mempunyai dinding sel. Aku bahkan tak peduli apakah engkau ini adenin ataupun guanin− yang jelas, aku akan selalu membawakan pasangan asam amino yang tepat ke dalam ribosom hatimu.

Hey, kau yang ada disana
Takkan pernah aku berinterfase untuk mencintaimu…


Sumber : http://vizology.blogspot.com/2011/11/puisi-cinta-ala-biolagi.html?showComment=1417795548664#c8725636343823911679

Part I

Hai, kau yang di sana
Siapakah dirimu….
Hingga tatapanmu mampu menjadi anaestesi duniaku?
Siapakah dirimu….
Hingga pesonamu bak feromon yang menarik perhatianku?
Siapakah dirimu….
Hingga kau mampu menjadi auksin yang merangsang cintaku tuk bersemi?
Dan mengapa harus dirimu yang menghasilkan fibrin menutupi luka lamaku?
Hai, kau yang di sana….
Tak mampu aku pungkiri bahwa aku mendambakanmu
Ketika sinar dirimu tertangkap jelas oleh konus retina ini
Tak mampu aku sangkali bahwa aku membutuhkanmu
Saat suara lembutmu merangsang gerak koklea telinga ini
Tak mampu aku ingkari bahwa aku menginginkanmu
Kedatanganmu membuat aliran darah menyeruak arteri dan vena ini
Hai, kau yang di sana…..
Aku ingin mencintamu dengan kokoh
Sekokoh ikatan kovalen yang tak tergoyahkan
Aku ingin mencintaimu dengan peka
Sepeka saraf yang mengantar rangsang dari dendrit ke dendrit
Aku ingin mencintaimu dengan pasti
Sepasti jantung yang tak akan pernah berhenti berdetak
Hai, kau yang di sana
Seperti bakteri yang bereproduksi dengan cepat,,,
Demikianlah keingintahuanku akan dirimu kian memuncak….
Hatiku terus bertanya pada MRNa,,,
Adakah sedikit pesan yang menyiratkan identitasmu?
Hai , kau yang di sana
Bayangan dirimu telah menjadi alel yang mengisi lokus cinta ini.
Sulit bagiku mendiagnosa arti dari setiap simptom yang muncul bagaikan misteri.
Dengan kerja keras neuronku membaca impuls yang kau sampaikan,,,,
Aku tahu bahwa setiap barisan kodonku dapat mentranslasikan setiap pesan dihatiku
Kini kusongsong dirimu, hai kau yang ada di sana

Aku mencintaimu…